Minggu, 27 Januari 2013

BERTAQWALAH KAMU DENGAN SEBENAR-BENARNYA TAQWA

BERTAQWALAH KAMU DENGAN SEBENAR-BENARNYA TAQWA

Kalimah Taqwa asal maknanya adalah mengambil tindakan penjagaan dan memelihara dari sesuatu yang mengganggu dan memudaratkan.
Menurut Syara
, Taqwa bererti : Menjaga dan memelihara diri dari siksa dan murka Allah Taala dengan jalan melaksanakan perintah-perintahNya, taat kepadaNya dan menjauhi larangan-laranganNya serta menjauhi perbuatan maksiat.[2]
Rasulullah s.a.w. pernah menjelaskan hakikat taqwa dengan sabda baginda yang bermaksud :
Mentaati Allah dan tidak mengingkari perintah-Nya, sentiasa mengingati Allah dan tidak melupakanya, bersyukur kepada-Nya dan tidak mengkufuri nikmat-Nya. ( Riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas rha. )
Saidina Umar r.a. pernah bertanya kepada seorang sahabat yang lain bernama Ubai bin Ka
ab r.a. makna taqwa. Lalu Ubai bertanya kepada Umar :
Adakah engkau pernah melalui satu jalan yang berduri?
Jawab Umar:
Ya.
Tanya Ubai lagi:
Apakah yang kamu lakukan untuk melalui jalan tersebut?.
Jawab Umar :
Aku melangkah dengan waspada dan berhati-hati
Balas Ubai : Itulah yang dikatakan taqwa.
Menurut Ibnu Abbas r.a. :
Al-Muttaqin (yakni orang-orang bertaqwa) ialah orang-orang beriman yang memelihara diri mereka dari mensyirikkan Allah dan beramal mentaatiNya.
Menurut Hasan al-Basri :
Orang-orang bertaqwa ialah orang-orang yang memelihara diri dari melakukan perkara yang diharamkan Allah dan mengerjakan apa yang difardhukan Allah ke atas mereka.
Berkata Abu Yazid al-Bustami :
Orang bertaqwa ialah seorang yang apabila bercakap, ia bercakap kerana Allah dan apabila ia beramal, ia beramal kerana Allah
(Muhammad Badri)


Dalam kitab Da'watut Tammah karya Syekh Alhabib Abdulloh Bin Alwi Alhadad hal 63, Berkata Imam Abdul Aziz Rohimahulloh Ta'aala :

Uwsika Bittaqwalloh 'Azza Wa Jalla ilaa akhir...Aku wasiatkan kepada kamu dengan Taqwa yang mana janganlah menerima kecuali hanyalah taqwa dan tidaklah disayangi/ diberikan kcuali oleh para ahli taqwa dan janganlah kembali kecuali dalam keadaan bertaqwa, Maka SESUNGGUHNYA BANYAK ORANG YANG MENASIHATI DENGAN KETAQWAAN TAPI SEDIKIT YANG MENJALANKANNYA.

Firman-Nya :
Wahai orang2 yang beriman, Bertaqwalah kepada Alloh dengan sebenar-benarnya taqwa kepada-Nya, Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan sebagai orang2 muslim. (Qs. ali-imron 102)

karena ini ayat Al-Qur'an maka kita liat Tafsir Ibnu Katsir Juz 1 hal 387 yang artinya :

Dan sesungguhnya telah meriwayatkan Ibnu Murduwyah dari Hadist Yunus bin Abdil 'ala dari Wahbin bin Sufyan Atsawri dari Zabid dari Murroh dari Abdulloh, Bersabda Rosululloh SAW :
Bertaqwalah kamu kepada Alloh dengan sebenar-benarnya Taqwa kepada-Nya, Bahwa DIA dipatuhi maka tidak didurhakai dan disyukuri, Maka tidak dikufuri dan di ingat maka tidak dilupakan. Seperti ini juga diriwayatkan Alhakim dalam Almustadroknya.



Kesimpulan dari semua ini jadi membuat pertanyaan beragam,
Dapatkah kita slalu mematuhi Alloh dan tak mendurhakai-Nya? Dapatkah Selalu kita mensyukuri Alloh dan tak pernah mengkufuri nikmat-Nya?
Dan dapatkah kita selalu mengingat Alloh dan tak pernah melupakan-Nya?
Jadi singkatnya dapatkah kita bertaqwa kepada Alloh dengan sebenar benarnya taqwa kepada-Nya, dengan artian tersbut???

Jadi jawaban dari semua ini tertera di dalam kitab ANNASHOIHUD DINIYYAH WAL WASHOYAL IMANIYAH yang artinya :

Dan tidaklah akan mampu seorang hamba, Walaupun ada baginya alfu alfi nafsin ilaa nafsihi (sejuta pribadi bersama pribadinya)
Dan sejuta umur bersama dengan umurnya untuk bertaqwa kepada Alloh Ta'aala dengan sebenar benarnya taqwa kpada-Nya dan sekalipun ia belanjakan semua itu di dalam berbakti kepada Alloh Ta'aala dan mencintai-Nya.
Dan hal tersebut adalah dikarenakan amat/sangat besarnya haq ALLOH diatas para Hamba-Nya dan karena Ketinggian dan keagungan Alloh dan Kebesaran-Nya dan Kemulian-Nya.
(Ilham Sandy Firtha)

Ada pula yg menjabarkan Taqwa dari 4 kata, TAwadhu, Qonaah, WAra, dan huruf terakhir YA, yaitu yakin


yakin...dicontohkan kita yang islam yakin bahwa ALLAH itu ada sebagai Tuhan, tapi dosa tetap terlakukan karena yakin nya baru di otak

'ainul yaqin... Dicontohkan kita yang beribadah dan mulai meninggalkan dosa dosa, namun masih banyak meminta dan berdoa karena pengenalannya pada ALLAH baru memakai hati

haqqul yaqin...dicontohkan cocoknya pada diri RASULULLAH SAW dan para penerus penerus keimanan beliau, pada tahap ini mereka tiada meminta dalam artian telah kenal sekenal kenalnya akan ke maha an ALLAH SWT
Ibarat anak yg kenal dgn ibunya, hngga ia tak perlu meminta apakah ibunya akan memasak hari ini...

Salah satu jalan menuju taqwa adalah sesuai dgn albaqarah 183...
Dijabarkan bahwa puasa dapat mengantarkan hmba pada maqom taqwa...

Dan kita telah ketahui bahwasanya puasa khusus diatas khusus lah yang disebut disitu, dimana niat, nafas, fikiran, qalbu , smua nya selalu bertali Zikir akan ALLAH SWT

Artinya taqwa yang benar itu saat dimana 100 persen jiwa dan raganya dalam tuntunan ALLAH SWT

dan kita tarik hikmah isra mi'raj nya Rosulullah SAW...
Bahwa kenapa Rosul bertemankan malaikatul Jibril as dalam perjalanan tersebut., tak lain adalah memberikan hikmah pada umatnya tentang perlunya pembimbing rohani dalam perjalanan menuju Alam cinta alam kenikmatan bertemu ZAT WAJIBAL WUJUD HAQIQI MUTLAK...

Ya, pembimbing rohani adalah guru diatas guru, dialah Ulama waritsatun anbiya waliyya mursyid
(Diri Berdiri)

Kaum Sarungan, 9 April 2012


 




 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar