Minggu, 03 Maret 2013

Ta'rif Sholat


Ta’rif sholat sebagai berikut:

a. Menurut Bentuk, Sifat dan Kaifiyat-nya, “Aqwaalun wa af’aalun muftahatun bittakbiiri mukhtatamatun bittastiimi yuta abbdu bihaa bisyaraaitha makhshuushah”,
artinya: “ Sholat itu adalah perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbir disudahi dengan salam, dengan cara mana Tuhan disembah menurut syarat-syarat tertentu ”.

b. Menurut Hakekat-nya, “Tawajjuhul qolbi ilallaahi ‘alaa wajhin yajlibulkhaufa ilaihi subhaanahu wa yab
atsu fiihi jalaala azhamatihi wa kamala qudratihi”.
artinya: “ Sholat itu ialah menghadapkan hati (jiwa) kepada Allah, menurut cara yang mendatangkan takut kepada Allah Subhanahu Wata’ala serta membangkitkan kedalam hati rasa kebesaran-Nya dan kesempurnaan kekuasaan-Nya ”.

c. Menurut Ruh-Nya, “Ruuhush shalaati: Attawajjuhu ilallaahi bilqolbi wal khusyuu’ baina yadaihi wal
ihhlaashu lahu ma’a hudluuril qolbi fidzdzikkri waddu’aa iwatstsanaa-i”,
artinya: “ Ruh sholat itu menghadap Allah dengan sepenuh jiwa dan khusyuk dihadapan-Nya serta ikhlas kepada-Nya disertai dengan kehadiran hati dalam dzikir, berdo’a dan memuji”.


Tentang ruh sholat, pada hakekatnya manusia itu terdiri dari dua unsur, yaitu jasmani dan ruhani, fisik dan metafisik, maka sholat itupun terdiri dari dua unsur pula, yaitu unsur fisik dan unsur metafisik. Unsur fisik adalah unsur yang konkrit dan nyata yakni kaifiyat sholat itu sendiri, sedangkan yang metafisik adalah unsur yang abstrak (tidak tampak) yakni ruhani, yakni ada dan menentukan hidup matinya sholat yang didirikan. Seperti halnya manusia, bagaimanapun kuat dan gagahnya atau cantiknya, tetapi bila nyawa tidak ada lagi bersemayam didalamnya maka tidak ada lagi orang tersebut tinggal berlama-lama di Dunia ini. Segala bentuk yang dimiliki tidak lagi memberikan manfaat bagi dirinya, bahkan justru bisa menyebabkan penyakit bagi orang lain.

Demikian pula dengan sholat, bagaimanapun bagusnya dan sempurnanya kaifiyat sholat itu dikerjakan secara lahiriah, tetapi ruhnya (ruhani) kosong dan hampa, maka sholat yang demikian itu dianggap tidak mempunyai ruh (nyawa) atau
mati, serta tidak mendatangkan manfaat dan tidak meninggalkan kesan mendalam serta berpengaruh terhadap prilaku orang yang melakukan. Allah SWT dalam QS. Thaahaa : 14 berbunyi Innanii anallahu laa ilaaha ilaa ana fa budnii wa aqimish shalaata li dzikrii,
artinya:
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku .

Rasulullah SAW bersabda dalam beberapa hadits antara lain yang artinya:
Allah tidak menerima sholat (seseorang) tanpa ber-suci, dan tidak menerima sedekah dari hasil kejahatan, yakni hasil mencuri, pungli, korupsi, dan sebagainya (HR. Muslim).

Dan....

Banyak sekali orang yang mendirikan sholat, tetapi tidak ada bagian yang diperoleh dari sholatnya itu melainkan lelah dan payah semata-mata (Diriwayatkan oleh Nasa-i dan Ibnu Majah).

Juga yang artinya:

Barang siapa yang sholatnya itu tidak dapat mencegah dari kejahatan serta kemungkaran, maka ia tidaklah bertambah dari Allah melainkan hanya jauhnya saja (Diriwayatkan oleh Thabrani).

Ayat dan hadits di atas telah mengisyaratkan dengan jelas, bahwa pada ibadah sholat selain kaifiyat masih ada sesuatu yang tak tampak, secara metafisik (ruhani) yang justru berperanan dalam eksistensi daripada sholat itu sendiri, sebagai motor penggerak agar sholat itu hidup dan dapat menjadi media komunikasi dua arah antara hamba dengan Allah SWT.


Khusyu'

Mengenai masalah khusyu' cukup banyak ahli tafsir yang memberikan uraian tentang
khusyu'. Untuk memahami bagaimana sebenarnya khusyu itu, maka akan diambil beberapa uraian dari para ahli tafsir sebagai berikut:

1. Ali Bin Abi Thalib: sahabat Rasul serta khalifah yang ke
4 yang terkenal dengan Bahrul Ilmi (lautan ilmu) menerangkan:

Alkhusyuu khusyuul Qolbi (khusyu itu adalah khusyu hati ), yang tempatnya di dalam hati atau qalbu, dan yang harus khusyu adalah hati itu sendiri.

2. Asysyahhid Sayid Quthub: Ahli tafsir abad XX ini dalam tafsirnya Fizhilalil Qur
an menguraikan:

Alladzina hum fi shalithim khasyiun adalah hati mereka yang sholat itu merasa gentar dan takut dihadapan Allah, maka tenanglah dia dan khusyu lantas menjalar kekhusyu an yang terdapat di hati itu kepada anggota badan, tercermin pada paras muka dan tampak pada gerak-geriknya. Ruh mereka diliputi ke Maha Besaran Allah SWT di hadapannya. Mereka tenggelam dalam perasaan dan kesadaran dengan Tuhan, menghabiskan waktu dengan munajat dengan Allah SWT dan menjauh dari alam sadarnya dalam menghadap yang suci itu dengan segala yang ada disekelilingnya dan semua yang ada pada dirinya. Maka tidaklah ia menyaksikan sesuatu melainkan akan Tuhan-Nya dan makna ke-Tuhanan-Nya.

Apabila diteliti letak perbedaan antara sholat yang shalaha dengan yang fasada , Allah SWT telah memberikan petunjuk kepada kita dalam firman -Nya: QS. Al Muminuun 1 - 2:

Qad aflahal muminuun. Alladziina hum fii shalaatihim khaasyiuun,

artinya:
Sesungguhnya mendapat kemenangan orang-orang mukmin yang berhati khusyu' dalam sholatnya.

Sesungguhnya inilah ciri sholat yang sholaha , hati yang khusyu' yang harus dipenuhi dalam sholat dan dalam ber-munajat kepada Allah, yang menghantarkan kita kehadirat-Nya. Sebaliknya Allah mengancam dengan neraka wail kepada orang yang lalai / rusak / fasad dalam sholatnya, seperti dalam QS. Al Maa
uun 4 - 5.

Fa wailul lil mushalliin alladziina hum an shalaatihim saahuun,

artinya:
Maka Neraka wail-lah (celakalah) bagi orang-orang yang shalat (dan seluruh ibadatnya)
karena (hatinya) lalai ( daripada mengingat Allah!) dalam shalat-nya
.

Berikut firman Allah dalam QS. Al Mu
minuun : 1-2:

Qad aflahal muminuun. Alladziina hum fii shalaatihim khaasyiuun ,

artinya:
Sesungguhnya mendapat kebahagiaan orang-orang mukmin yang berhati khusuk dalam shalatnya.

Hati sanubari / qalbu benar-benar harus disucikan, pencapaiannya melewati
tahapan-tahapan pencucian hati dengan dzikrullah, sehingga bebas dari pengaruh syetan dan
gelombang angkara murka, hawa nafsu, pengingkaran dan sebagainya.
Sabda Rasulullah SAW sebagai berikut: Yang artinya:

Jikalau tidaklah setan-setan itu mengelilingi hati anak Adam (manusia), niscaya mereka itu akan melihat ke alam Malakut (HR. Al-Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah).

Karena itulah Umar r.a berkata:

Hatiku melihat Allah , karena terangkat hijab, barang siapa yang terangkat hijab diantaranya dan Allah , niscaya menjelaslah bentuk al amul-mulki (alam nyata) dan alamul malakul (alam batin / metafisik) .

Hati yang bersih yang tak ter- hijab itulah hati orang mukmin dan orang yang mukmin- lah yang
shalatnya adalah mi
raj, seperti sabda Rasulullah SAW:

Shalat adalah miraj orang mukmin ( HR. Bukhari).

Bagaimana mungkin setan bisa dikeluarkan ? Padahal setan itu sangat sakti, sangat dahsyat, tinggi dimensinya, halus dan umurnya telah berabad-abad (jutaan tahun) lamanya dan ilmunya tinggi. Ia yang memperdaya Bapak-Ibu manusia yaitu Adam dan Hawa, tempat menipunya pun di Surga pula (bukan di pasar malam), sehingga Adam dan Hawa terusir dari Surga.

Lihatlah pesan Allah kepada segenap manusia dalam firman Allah SWT dalam QS. Al A
raaf: 27 yang berbunyi Yaa banii aadama laa yaftinannakumusy syaithaanu ka maa akhraja abawaikum minal jannati yanziu anhumaa libaasahumaa li yuriyahumaa sau-aatihimaa innahuu yaraakum huwa wa qabiiluhuu min haitsu laa taraunahum innaa jaalnasy syayaathiiina auliya-a lil ladziina laa yuminuun, artinya: Hai anak Adam, janganlah kamu terperdaya oleh setan sebagaimana Ia telah mengeluarkan ibu bapakmu (Adam dan Hawa) dari dalam surga, sedangkan dia menanggalkan pakaian keduanya supaya terbuka kemaluannya. Sesungguhnya setan itu dan bala tentaranya melihat kamu sedang kamu tidak melihatnya. Sungguh setan-setan itu kami angkat menjadi wali / pimpinan bagi orang-orang yang tiada beriman .

Apabila orang-orang yang beriman hendak meningkatkan kualitas shalat yang berkapasitas miraj , maka satu-satunya jalan yakni dengan ber- taubat lalu masuk thoriqotullah/thoriqoh atau jalan menuju Allah, dengan tahapan pencapaian sebagai berikut :
Pertama : Tazakka, mensucikan qalbu dari nafsu setan, mengisi qalbu dengan asma Allah (dzikir). Kedua : dzakaro asma robbihi; yakni menyebut-nyebut dan membesar-besarkan nama Allah dengan metode yang benar untuk menjolok turun karunia Allah / ridho-Nya. Ketiga: Mendirikan shalat khusyuk , sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS. Al A
laa :14 - 15:

Qad aflaha man tazakkaa. Wadzakaras marrabbihii fashallaa,

artinya:
Sungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya. Dan dzikirlah akan Allah, lalu
tegakkan shalat


Oleh : Solihin Gubes
Kaum Sarungan, 21 Juli 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar