Rabu, 29 Mei 2013

SIFAT WAJIB ALLAH (WUJUD)


بسم الله الرحمن الرحيم

WUJUD

Awaluddin Ma'rifatulloh (Permulaan agama adalah mengenal Alloh)

Sahabat...Apabila seseorang tidak mengenal Alloh, Maka segala amal bakti/ibadahnya tidak akan sampai kepada Alloh Ta'aala dan Akan sia2 segala amalan perbuatannya. Apabila sudah mengenal Alloh maka segala Amal perbuatannya, ibadahnya akan sampai kepada Alloh Ta'aala.

Oleh karena itu mengenal Alloh (ma'rifatulloh) adalah suatu perkara yang sangat penting, Jika seseorang tidak mengenal Alloh maka segala perkara ibadahnya menjadi bimbang (Ya/tidak), dan jika ia menjadi bimbang maka ia tidak akan sampai kepada-Nya.
Mengapa demikian...Karena seseorang tidak akan mengenal Alloh melalui Dzat-Nya, karena membayangkan Dzat-Nya adalah suatu perkara yang diluar batas kesanggupan akal, Jadi mengenal Alloh dengan cara mengenal akan sifat-sifat-Nya.

Dan sifat-sifat-Nya juga dapat diketahui dengan melalui dalil Aqli dan Naqli, Dalil Aqli yaitu suatu yang bersumber dari Akal dan Dalil Naqli yaitu dalil yang bersumber dari Al-Qur'an dan Assunnah, Tanpa kedua dalil itu sesorang tak akan bisa mengetahui sifat2 Alloh 



Sifat-sifat Wajib Alloh Ta'aala :

- Sifat Wajib 20 : Sifat2 kesempurnaan yang dimilki Alloh
- Sifat Mustahil 20 : Sifat2 yang mustahil bagi Alloh
- Sifat Jaiz/ Mubah : Sifat yang bebas bagi Alloh, Jumlahnya Hanya 1 yaitu Alloh berkehendak berbuat sesuatu atau tidak berkendak atas sesuatu.

WUJUD artinya Ada Maka Mustahil Alloh Tidak Ada.
Sahabat..Tidak mudah tuk membuktikan Alloh itu ada kecuali bagi orang2 yang beriman, Memang kita tidak dapat melihat wujud Alloh secara langsung tetapi dengan menggunakan Akal sehat kita dapat menyaksikan ciptaan-Nya, Yaitu seluruh alam semesta ini. (Maka pikirkanlah ciptaan-Nya (makluk-Nya) bukan memikirkan yang menciptakan-Nya (Kholiq) ).

WUJUD artinya ADA maka yang ada itu adalah Dzat Alloh Ta'aala lawanannya adalah Mustahil Alloh Tidak Ada, Karena jikalau Alloh itu tidak ada, maka tidaklah ada perubahan pada Alam semesta ini, karena Alam semesta ini menjadi statis (tak ada masa, waktu, pergerakan dll.) dan Tak akan bisa akal sehat ini menerima itu semua.
Oleh karena itu jika alam ini berbuat sendirinya (tidak ada yang menjadikan dan tidak ada yang mengatur) maka dipastikan tidak akan terjadi keseimbangan, karena semuanya terjadi menurut kemauannya sendiri.

Contohnya :
Jika putaran matahari, putaran bumi, dan bulan dan lain2nya yang ada di alam semesta ini menurut kemauan sendiri, pastilah berat sebelah pada salah satunya, Sekarang ini alam semesta ini telah nyata adanya sebagaimana yang kita lihat dan sangat teratur tersusun dengan segala pekerjaannya masing2, maka menrimalah Akal kita bahwa wajib ADAnya Tuhan yaitu Alloh dan Mustahil tidak ada.

Klo sudah begini maka sesuailah dengan Dalil Naqli yang Dia-lah yang mengadakan segala sesuatu dan Dia-lah pula yang menciptakan semesta alam, Sebagaimana dalam Firman-Nya :
Alloh adalah pencipta (Menjadikan) segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa (Surat : Arra'd 13 ; 16)

Alloh-lah yang menciptakan langit dan Bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa, Kemudian Dia Bersemayam diatas Arsy, Tidak ada bagi kamu selain daripada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at, maka apakah kamu tidak memperhatikan??? (Surat : Assajadah 32 : 34 )

Para ulama sepakat bahwa kata Bersemayam itu berkuasa, karena sesungguhnya semua yang disandarkan kepada Alloh Ta'aala tidak menyerupai semua yang disandarkan dengan makluk-Nya. Allah Tanpa Tempat dan Arah

Allah ta’ala berfirman: “Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya”. (Q.S. as-Syura: 11)

Ayat ini adalah ayat yang paling jelas dalam al Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah sama sekali tidak menyerupai makhluk-Nya. Ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (makhluk Allah) terbagi atas dua bagian; yaitu benda dan sifat benda. Kemudian benda terbagi menjadi dua, yaitu benda yang tidak dapat terbagi lagi karena telah mencapai batas terkecil (para ulama menyebutnya dengan al Jawhar al Fard), dan benda yang dapat terbagi menjadi bagian-bagian (jisim).

Benda yang terakhir ini terbagi menjadi dua macam;

1. Benda Lathif: sesuatu yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti cahaya, kegelapan, ruh, angin dan sebagainya.

2. Benda Katsif: sesuatu yang dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, tanah, benda-benda padat dan lain sebagainya.

Adapun sifat-sifat benda adalah seperti bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, turun, naik dan sebagainya. Ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa Allah ta’ala tidak menyerupai makhluk-Nya, bukan merupakan al Jawhar al Fard, juga bukan benda Lathif atau benda Katsif. Dan Dia tidak boleh disifati dengan apapun dari sifat-sifat benda. Ayat tersebut cukup untuk dijadikan sebagai dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan arah. Karena

seandainya Allah mempunyai tempat dan arah, maka akan banyak yang serupa dengan-Nya. Karena dengan demikian berarti ia memiliki dimensi (panjang, lebar dan kedalaman). Sedangkan sesuatu yang demikian, maka ia adalah makhluk yang membutuhkan kepada yang menjadikannya dalam dimensi tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud). Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum

terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk). Maaf ane ga maau lebih dalam lagi masalah tentang dalil2 ini Insyaa Alloh Para sahabat suadah paham. hehe3x...

WUJUD adalah sifat nafsiya, karena WUJUD ialah diri Dzat Alloh Ta'aala WUJUD (Ada) itulah diri-Nya Haq Alloh Ta'aala.
Adapun sifat Nafsiyah Adalah Hiya Huwa Wa Laa Hiya Ghoiruhu artinya : Sifat inilah Dzat Haq Alloh Ta'aala bukan yg lain- Nya yakni sifat pada Lafadz Dzat pada Makna.

Maka adapun haqiqot sifat Nafsiyah Ialah Hiyal Halul Wajibatu Lidzzati Maadaamati Adzzatu ghoiru mu'alalati Bi'illati artinya :
Hal yg wajib bagi Dzat slama Dzat itu adanya tiada disebabkan dngan suatu illat (sebab).

jadi Wujud dikatakan sifat nafsiyah karena Wujud menunjukkan sebenar-benar diri Dzat Alloh Ta'aala dan Tidaklah boleh dipisahkan WUJUD Itu dari DZAT.
Adapun WUJUD Itu ada 3 macam :

- WUJUD HAQIQI yaitu DZAT ALLOH TA'AALA wujudnya tiada permulaan dan tiada ksudahan, WUJUD Bersifat Qodim (trdahulu) dan Baqo (kekal) maka inilah yg dsbut Wujud Haqiqi.

- WUJUD 'ARDHI yaitu Dzat Arodhul Wujud artinya Wujudnya ada permulaan dan tiada ksudahan seprti : Surga, Neraka, Arsy, Kursy dll.

- WUJUD MAJAZI Yaitu Dzat sgala Makhluk, Wujudnya ada permulaan dan ada ksudahan, tiada brsifat Qodim dan Baqo, Wujudnya ini juga dinamakan Wujud Majazi krna Wujudnya brsandarkan Qudrot dan Irodatnya Alloh Ta'aala.

Jadi...Nyata dan Benar bahwa WAJIB bagi Dzat Alloh Ta'aala ada-Nya tiada dsebabkan dngn suatu sebab. Menurut pendapat Imam Abu Hasan Al-Asyari Bahwa Al-Wujud 'Ainul Maujud artinya WUJUD itu kenyataan Dzat Maujud, Tidak dsbut Wujud melainkan bagi Dzat.

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka :
Siapakah yang menciptakan langit dan bumi ?
Tentu mereka akan menjawab :
ALLOH, katakanlah :
Segala puji bagi ALLOH akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
(Surat Al-lukman 31 : 35)

jadi kesimpulannya adalah :
Kita meng-itiqodkan sesungguhnya Alloh Ta'aala itu Ada dan Sesungguhnya kbradaan Alloh Ta'aala dngan Dzat-Nya sendiri, Tidak ada perantaraan sesuatupun dan sesungguhnya Alloh itu Wajib adanya, tidak mungkin akan menemui ketiadaan-Nya. Wajib bagi mukmin mu'taqid slalu ingat pada Alloh Ta'aala pada tiap2 yang Maujud (berwujud) juga kenyataan ada-Nya.

Wahai Yang Maha Ada...
Wahai Yang Menunjukkan diri-Nya dengan Dzat-Nya, Siapakah yang tidak mengetahui Diri-Mu, Wahai Dzat Yang Karena-Nya segala sesuatu menjadi ada, Wahai Dzat Yang dngan-Nya sgala sesuatu menjadi bukti keberadaan-Nya,...
Ilhamilah...Diriku kecintaan dan Ingatan kepada-Mu, Sehingga Aku senantiasa dalam Dzikir kepada-Mu...
Aamiin Allohumma Aamiin (Sayyiduna Ali Karomallohu Wajhah)

Oleh : Ilham Sandy Firtha
Kaum Sarungan, 25 September 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar